INFO
‘ROGUE TRADERS’ SI PENYELUNDUP KAYU AKHIRNYA TEREKSPOS
Kamis, 05 Agustus 2010 11:16   
lead-PR-rogue-trades1
Organisasi lingkungan mengumumkan dua gembong mafia perdagangan kayu internasional

 

Jakarta, 5 Agustus 2010. Hari ini Telapak dan Environmental Investigation Agency (EIA) mengumumkan dua nama gembong di Indonesia yang telah meraup keuntungan besar dari perdagangan internasional kayu curian.

Dalam laporan terbaru, Rogue Traders: Bisnis Hitam Penyelundupan Merbau di Indonesia, EIA yang berbasis di London bersama dengan Telapak mengidentifikasi pengusaha Ricky Gunawan dan Hengky Gosal sebagai dua pelaku utama dalam penyelundupan kayu merbau ilegal.

Laporan ini merupakan hasil investigasi Telapak dan EIA antara tahun 2009 hingga 2010. EIA dan Telapak mengimbau pemerintah Indonesia untuk menginvestigasi kedua nama tersebut dan melindungi kayu merbau melalui Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).

Pada tahun 2005, laporan Telapak dan EIA yang berjudul The Last Frontier, mengekspos penyelundupan merbau ke Cina dalam jumlah besar dan mencengangkan. Pemerintah Indonesia merespon dengan berupaya memberantas pembalakan liar yang sebelumnya tidak pernah diperhatikan.

Meskipun usaha memberantas pembalakan liar telah dilakukan selama lima tahun terakhir, aksi penindakan terhadap para pelaku utama masih gagal. Hutan Indonesia masih terancam. Pada April 2010, tingkat pembalakan liar yang ada memicu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga akhirnya menyerukan rasa frustrasinya. Presiden SBY mengatakan tidak ada kemajuan yang dicapai dalam tuntutan hukum terhadap kasus pembalakan liar. Beliau juga menginstruksikan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum untuk menyelidiki kasus-kasus pembalakan liar.

Investigasi penyamaran yang dilakukan Telapak dan EIA dalam beberapa tahun terakhir, mengikuti peredaran perdagangan merbau ilegal di Cina dan Singapura, juga Surabaya, Makassar, dan Papua di Indonesia. Merbau merupakan kayu yang bernilai tinggi karena keras dan kuat. Merbau biasa digunakan untuk lantai, furnitur, dan pintu. Di Indonesia, hampir semua merbau berasal dari Papua. Hutan Papua merupakan bagian dari hutan tropis utuh yang masih tersisa di wilayah Asia Pasifik. Sekitar seperempat hutan Papua telah habis dalam 12 tahun terakhir.

Pada Oktober 2009, 23 kontainer kayu merbau tujuan Cina, India, dan Korea Selatan disita di Jakarta. Telapak dan EIA menyamar sebagai pembeli kayu membongkar operasi penyelundupan yang dilakukan oleh Hengky Gosal. Penyitaan tersebut menunjukkan betapa lemahnya sistem pemantauan kayu legal di Indonesia yang dilakukan oleh Sucofindo dan Badan Revitalisasi Industri Kayu.

Saat berbincang dengan investigator, Hengky Gosal mengakui telah menyelundupkan hinga 50 kontainer balok kayu merbau setiap bulannya ke Cina. Hal tersebut tentunya melanggar aturan yang menyebutkan bahwa ekspor kayu Indonesia dilarang. Hengky Gosal juga mengatakan ia menyuap petugas bea cukai untuk memastikan pengiriman yang aman keluar dari Indonesia.

Salah satu tempat utama lain untuk perdagangan kayu ilegal adalah di Surabaya, Jawa Timur. Ricky Gunawan yang sudah cukup dikenal sebagai penyelundup memilih Surabaya sebagai tempatnya beroperasi. Telapak dan EIA telah menyerahkan beberapa laporan tentang kegiatan Ricky Gunawan dari 2007 kepada pihak berwenang. Namun tetap tidak ada investigasi dan penyelidikan yang dilakukan. Desember 2009 Ricky masih saja mengirimkan balok kayu merbau ilegal ke selatan Cina.

Dengan menggunakan beberapa cara untuk memperdaya, Gunawan dapat mempengaruhi pihak berwenang. Salah satu pengiriman merbau tujuan Cina miliknya yang diakui sebagai “komponen jembatan” tertahan di bea cukai pada April 2009. Namun intervensi oleh pegawai pemerintahan dan anggota DPRD memastikan pengiriman tersebut terus berjalan mulus.

Direktur Kampanye EIA, Julian Newman mengatakan, “Sejumlah besar kayu ilegal dari Indonesia turun dalam kurun waktu lima tahun pertama. Itu artinya penegakan hukum yang efektif melawan perusahaan, cukong, dan pejabat korup sangat tidak memadai.”

Hapsoro dari Telapak mengatakan, “Tidak heran jika Presiden Indonesia menginstruksikan Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum untuk meneliti kasus pembalakan liar. Hal tersebut tentu harus difokuskan pada dua penyelundup merbau seperti yang terlampir dalam laporan ini, Ricky Gunawan dan Hengky Gosal. Sudah waktunya bagi Indonesia untuk berusaha dua kali lebih keras untuk melawan pembalakan liar dan penyelundupan ilegal dengan mengejar dua pelaku utama.”

 

DESAKAN UNTUK BERTINDAK – DARI EIA DAN TELAPAK:

Pemerintah Indonesia harus:

  1. Mendaftarkan merbau dalam Apendix III pada CITES, dengan kuota untuk perdagangan yang berkelanjutan;
  2. Menginvestigasi kegiatan ilegal dari Ricky Gunawan dan Hengky Gosal;
  3. Meninjau keefektifan Instruksi Presiden no.4/2005 mengingat bukti bahwa lembaga penegak hukum gagal bekerjasama secara efektif untuk memberantas pembalakan liar.
  4. Membentuk dan menetapkan satuan khusus yang melapor langsung pada Presiden sebagai tindakan melawan pembalakan liar.

 

Wawancara, foto, dan video tersedia jika dibutuhkan. Silahkan hubungi:

  • Julian Newman, EIA: Alamat E-mail ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya Ph: 0812 88020340.
  • Sheila Kartika, Telapak: Alamat E-mail ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya Ph:0856 8871996

Salinan laporan lengkap dapat diunduh di www.eia-international.org atau www.telapak.org .

 

CATATAN EDITOR:

1. Environmental Investigation Agency (EIA) merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) berbasis di Inggris dan gabungan perusahaan amal yang menginvestigasi dan berkampanye melawan kejahatan lingkungan, termasuk pembalakan liar. Telapak merupakan organisasi lingkungan independen berbasis di Bogor, Indonesia.

2. Merbau merupakan kayu keras, kuat dan berwarna gelap yang memiliki nilai tinggi. Merbau biasa digunakan untuk lantai, papan dek, furnitur luar ruangan, pintu, dan kusen jendela. Kayu gelondongan merbau di Papua dijual dengan kisaran harga $250 hingga $300 per meter kubik. Merbau sangat diincar oleh para pembalak liar dan penyelundup kayu karena tingkat permintaannya yang tinggi di Cina dan India (untuk bahan mentah) serta Australia, Uni Eropa dan Amerika Serikat (untuk produk jadi).

3. The Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) mengatur perdagangan global mengenai flora dan fauna yang terancam. Appendix II memperkenankan negara-negara untuk mengambil aksi sepihak melarang perdagangan spesies untuk membatasi risiko perdagangan berlebihan.


English Version

‘ROGUE TRADERS’ IN TIMBER SMUGGLING EXPOSED

Environment groups name two kingpins in illegal international trade

THE Environmental Investigation Agency (EIA) and Telapak today (August 5, 2010) name two of the kingpins in Indonesia profiteering from the hugely lucrative international trade in stolen timber.

In the new report Rogue Traders: The Murky Business of Merbau Timber Smuggling in Indonesia, London-based EIA and Indonesian group Telapak identify businessmen Ricky Gunawan and Hengky Gosal as two of the major players in smuggling illicit merbau timber.

The report is the result of the groups’ investigations during 2009-10 and calls on the Indonesian government to launch criminal investigations into the pair and to protect merbau under the Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).

In 2005, the EIA/Telapak report The Last Frontier exposed massive smuggling of merbau to China on a scale so breathtaking that the Indonesian government responded with an unprecedented crackdown on illegal logging.

However, despite significant progress being made against illegal logging in the past five years, enforcement action against the main players has stalled. The threat to Indonesia’s precious forests remains. In April this year the extent of ongoing illegal logging spurred President Susilo Bambang Yudhoyono to voice his frustration at the lack of progress in prosecuting illegal logging cases through the courts and to order his government’s taskforce on eradication of judicial corruption to investigate.

Undercover investigations by EIA/Telapak in the past year followed the illicit merbau trade in China and Singapore, as well as Surabaya, Makassar and Papua in Indonesia. Merbau is a valuable hardwood used to make flooring, furniture and doors. Within Indonesia, almost all merbau trees are found in Papua in the east of the country. Papua's forests form part of the last significant tract of intact tropical forests in the Asia-Pacific region. About a quarter of Papua's forests have gone in the past 12 years.

Following the October 2009 seizure in Jakarta of 23 containers of merbau logs destined for China, India and South Korea, EIA/Telapak investigators posing as timber buyers uncovered a smuggling operation headed by Hengky Gosal which employed bribery and exploited failings in the monitoring system to acquire documentation for the shipment. The seizure exposes serious flaws in Indonesia's system for checking the legality of timber systems, operated by surveyor Sucofindo and wood industry body BRIK (Badan Revitalisasi Industri Kayu).

While unwittingly speaking with investigators, Gosal admitted smuggling up to 50 containers a month of merbau square logs (called flitches) to China, in contravention of Indonesia's log and sawn timber export bans. He also claimed to bribe customs officers to ensure safe passage out of Indonesia.

Another illicit timber trafficking hotspot is the city of Surabaya, in East Java, the base of operations for prominent merbau smuggler Ricky Gunawan. EIA/Telapak have submitted several reports on his activities since 2007 to Indonesian authorities, but he has yet to be investigated; as recently as December 2009, he was still shipping illegal merbau flitches to southern China.

Utilising a variety of methods to circumvent the authorities, Gunawan wields such influence that when one of his China-bound merbau shipments, falsely purporting to be ‘bridge components’, was detained by Indonesia customs in April 2009, swift intervention on his behalf by some government officials and members of local parliament ensured the timber was released for onward shipment.

EIA Campaigns Director Julian Newman said: “While the huge quantity of illegal timber flowing from Indonesia during the first half of the decade has declined, effective law enforcement against those responsible – the financiers, company bosses and corrupt officials – has been woefully inadequate."

Hapsoro of Telapak said: “It is no wonder the Indonesian President has ordered the country’s judicial mafia eradication taskforce to scrutinise illegal logging cases. It should certainly focus its attention on two merbau smugglers named in this report – Ricky Gunawan and Hengky Gosal. It is time for Indonesia to redouble its efforts to combat illegal logging and timber smuggling by going after the main culprits."

 

URGENT CALL TO ACTION – FROM EIA/Telapak

The Government of Indonesia should:

1. List merbau on Appendix III of CITES, with a sustainable quota for trade;

2. Formally investigate the illegal activities of Ricky Gunawan and Hengky Gosal;

3. Review the effectiveness of Presidential Instruction 4 of 2005 in light of evidence that enforcement agencies still fail to collaborate effectively against illegal logging;

4. Establish a taskforce reporting directly to the President on actions taken against illegal logging.

 

Interviews, images and footage are available on request: please contact:

  • Julian Newman, EIA: Alamat E-mail ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya or telephone 0812 88020340.
  • Sheila Kartika Pratama, Telapak: Alamat E-mail ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya or telephone 0856 8871996

Copies of the full report can be downloaded at www.eia-international.org or www.telapak.org.

 

 

EDITORS’ NOTES

1. The Environmental Investigation Agency (EIA) is a UK-based Non Governmental Organisation and charitable trust that investigates and campaigns against a wide range of environmental crimes, including illegal logging. Telapak is an independent environmental organization based in Bogor, Indonesia

2. Merbau is a valuable dark hardwood used to make flooring, decking, outdoor furniture, doors and window frames. Merbau logs in Papua are sold for between $250 and $300 per cubic metre. Merbau is heavily targeted by illegal loggers and timber smugglers due to heavy demand for raw timber in China and India, and for merbau products in Australia, the European Union and the US.

3. The Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) regulates global trade in threatened flora and fauna. Appendix III allows countries to take unilateral action to restrict trade in species at risk from excessive trade.

 

 


address

Taman Yasmin Sektor V
Jl. Palem Putri III No.1
Bogor 16143, Jawa Barat, Indonesia
Phone : +62 251 843 1516
Fax : +62 251 843 1514
Email : info@telapak.org


 

 

alliance